Jakarta, PINews.com - Mengkonsumsi obat tak boleh sembarangan dan sebaiknya melalui resep dokter. Jika kita salah mengkonsumsi obat, bisa menjadi racun yang berbahaya. Demikian pula dengan cara mendapatkan obat tersebut. Sayangnya saat ini masih beredar obat palsu di Indonesia. Tak hanya berdampak buruk bagi industri farmasi, peredaran obat baru juga mengancam kesehatan.
Menurut Direktur Eksekutif International Pharmaceutical Manufactures Group (IPMG), Parulian Simanjuntak di Jakarta, Kamis (30/10), obat-obatan palsu dan tidak terdaftar banyak ditemukan dengan mudah di pasar Indonesia, dan menimbulkan ancaman bagi kesehatan masyarakat.
Konsumsi obat palsu dapat membuat sakit yang tidak kunjung sembuh, bahkan menyebabkan kematian. Parulian mengatakan, peredaran obat palsu ini juga membuat kepercayaan masyarakat menurun terhadap industri farmasi dan praktisi kesehatan.
Parulian menjelaskan masyarakat harus sangat berhati-hati dalam membandingkan obat asli atau palsu,"Obat palsu bisa sangat mirip mulai dari bentuk, warna, dan kemasan obat asli. Sementara zat atau kandungan dalam obat palsu tidak sama dengan obat asli. Obat palsu, labelnya tidak sesuai dengan isinya. Misalnya kandungan suatu zat harusnya 250 mg ternyata hanya 0 mg." katanya.
Menurut Parulian, sejumlah perusahaan farmasi juga berupaya agar masyarakat bisa mengenali perbedaan antara produksi obat palsu dan asli. Mengenali obat palsu ini pun cukup sulit jika belum pernah mengonsumsi obat yang sama sebelumnya.
Pemalsuan obat juga menjadi salah satu bisnis yang menguntungkan seperti peredaran narkotika. Bahkan tidak ada langkah hukum yang jelas terhadap pengedar obat palsu. Untuk itu, Kementerian Kesehatan, BPOM, dan pihak terkait tak boleh lengah melakukan pengawasan peredaran obat palsu.
Parulian mengatakan, dengan adanya asuransi kesehatan, IPMG berharap masyarakat terhindar dari obat-obatan palsu. IPMG sebagai organisasi nirlaba yang beranggotakan 24 perusahaan farmasi berbasis riset di Indonesia, juga akan terus melakukan sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan konsumsi obat palsu
Editor: RI